*Cerpen* edisi Maret 2026

BULETIN MARET 2026

Kenny Dwi Buana

3/31/2026

Pagi itu, udara terasa lebih segar dari biasanya. Takbir berkumandang dari masjid-masjid, menandakan hari yang dinanti telah tiba, Hari Raya Idulfitri. Kenan, seorang siswa SMP, berdiri di depan cermin sambil merapikan baju koko putihnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Dalam hatinya ia berkata, “Hari ini aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku.”

Namun, sebelum Ramadan tahun ini, Kenan sebenarnya tidak terlalu serius menjalankan puasa. Ia sering menyepelekannya. Terkadang ia mengeluh, bermalas-malasan, bahkan pernah tergoda untuk berbuka lebih cepat hanya karena lapar. Ia juga kerap bercanda dengan teman-temannya seolah puasa bukan hal yang penting.

Suatu hari di sekolah, teman-temannya, Sean dan Ryan, mengingatkannya.

“Kenan, puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kita menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Sean.

Ryan menambahkan, “Kalau kita menganggapnya remeh, kita bisa kehilangan banyak pelajaran di Ramadan ini. Belum tentu kita masih bisa bertemu Ramadan berikutnya.”

Kata-kata mereka membuat Kenan mulai berpikir.

Sejak saat itu, Kenan berusaha berubah. Ia mencoba menjadi lebih sabar, tidak mudah mengeluh, dan menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh. Meskipun tidak selalu mudah, Kenan merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.

“Kenan, ayo berangkat salat Id!” panggil Ayah dari ruang tamu.

“Iya, Yah!” jawab Kenan sambil tersenyum. Hari itu ia merasa lebih tenang. Ia ingin memulai Hari Fitri dengan hati yang bersih.

Di jalan menuju masjid, Kenan bertemu sahabatnya, Sean dan Ryan.

“Selamat Idulfitri, Kenan! Mohon maaf lahir dan batin,” kata mereka. Kenan menjabat tangan mereka dengan hangat.

“Maaf juga kalau selama ini aku sering bercanda berlebihan tentang puasa,” ucapnya dengan tulus.

Setelah salat Id selesai, Kenan pulang ke rumah. Di ruang tamu sudah ada Ibu dan adiknya, Qiana. Dengan pelan, Kenan menghampiri mereka.

“Bu, Kenan minta maaf kalau selama ini sering membuat Ibu kesal.”

Ibu tersenyum haru lalu memeluknya.

“Tidak apa-apa. Yang penting Kenan mau belajar menjadi lebih baik,” katanya lembut.

Qiana yang melihat itu ikut tersenyum.

“Kak Kenan sekarang sudah berubah, ya. Bagus, deh,” ujarnya dengan nada bangga.

Siang harinya, Kenan, Sean, dan Ryan berkeliling ke rumah teman-teman mereka untuk bersilaturahmi. Mereka saling memaafkan dan tertawa bersama. Kenan merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman yang mau mengingatkannya saat ia berbuat salah.

Saat sore tiba, Kenan duduk di teras rumah, memandang langit yang mulai berwarna jingga. Ia menyadari bahwa Ramadan telah mengajarkannya banyak hal tentang kesabaran, rasa syukur, dan memperbaiki diri.

Kenan tersenyum kecil. Dalam hatinya, ia berjanji bahwa mulai hari ini ia akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Baginya, Hari Fitri bukan hanya akhir dari Ramadan, tetapi juga awal perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

SAATNYA MENJADI VERSI TERBAIK DI HARI FITRI

Kenny Dwi Buana

3/31/2026