*Cerpen* edisi April 2026

BULETIN APRIL 2026

Aisyah Althafunnisa Bakti

4/30/2026

Di sebuah kota yang maju, hiduplah seorang siswi SMP bernama Layla. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan percaya diri.

Suatu pagi, Layla datang ke sekolah seperti biasanya. Saat pelajaran dimulai, wali kelasnya masuk ke dalam kelas dan menyapa,
“Selamat pagi, anak-anak. Minggu depan akan diadakan lomba pidato di sekolah. Apakah ada yang ingin ikut?”

Tanpa ragu, Layla mengangkat tangan.
“Saya, Bu,” jawabnya mantap.

Setelah melalui pertimbangan, Layla pun terpilih menjadi perwakilan kelasnya. Namun, setelah itu ia mulai merasa bingung. Ia belum menemukan topik yang tepat untuk pidatonya.

Suatu siang, tanpa sengaja Layla mendengar percakapan dua orang temannya.
“Eh, kamu tahu nggak? Ibu wali kelas sebelah kalau mengajar sering nggak jelas,” kata salah satu dari mereka.
“Iya, benar. Wajahnya juga galak. Kalau mengajar sering marah-marah,” sahut temannya.

Mendengar hal itu, Layla terdiam. Ia merasa tidak setuju dengan perkataan mereka. Justru dari situlah muncul sebuah ide. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang berbeda melalui pidatonya.

Hari lomba pun tiba. Aula sekolah dipenuhi oleh siswa dan para guru. Saat namanya dipanggil, Layla maju ke depan dengan sedikit rasa gugup, tetapi tetap percaya diri.

“Tes, tes… Halo semuanya. Perkenalkan, saya Layla dari kelas 8A. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan pidato yang berjudul Kartini Masa Kini.”

Layla menarik napas sejenak, lalu melanjutkan,
“Tahukah kalian bahwa Kartini masa kini ada di sekitar kita? Salah satunya adalah ibu guru. Mereka adalah sosok yang berjasa dalam mendidik dan membimbing kita.

Namun, pada kenyataannya, masih banyak di antara kita yang belum menghargai mereka. Bahkan, tidak sedikit yang justru berkata buruk tentang guru perempuan. Apakah kita sudah benar-benar menghargai perjuangan mereka? Apakah kita sudah berterima kasih atas jasa mereka?

Kartini masa kini tidak selalu mengenakan kebaya atau hidup di masa lalu. Mereka ada di hadapan kita hari ini, mengajar, membimbing, dan mendidik dengan penuh kesabaran.

Oleh karena itu, mari kita mulai menghargai mereka dari hal-hal kecil, seperti mendengarkan penjelasan guru dengan baik dan menjaga sikap saat berada di kelas. Dengan begitu, kita telah menunjukkan rasa hormat kepada Kartini masa kini.”

Layla mengakhiri pidatonya dengan penuh keyakinan,
“Sekian pidato dari saya. Apabila terdapat kekurangan, saya mohon maaf. Terima kasih atas perhatian kalian.”

Sesaat setelah ia selesai, tepuk tangan meriah terdengar di seluruh ruangan. Layla tersenyum lega dan bangga.

Ketika ia turun dari panggung, wali kelasnya menghampiri.
“Kamu hebat, Layla. Kamu berani menyampaikan pendapatmu di depan banyak orang,” ujar sang guru.

Layla tersenyum.
“Terima kasih, Bu. Saya hanya ingin kita semua belajar menghargai Kartini masa kini.”

Hari itu, Layla tidak hanya mengikuti lomba pidato, tetapi juga berhasil menyampaikan pesan penting kepada semua orang.

KARTINI MASA KINI

Aisyah Althafunnisa Bakti

4/30/2026